Selasa, 02 Desember 2014

PERBEDAAN METODE PENGOLAHAN LIMBAH AIR DI NEGARA INDONESIA DAN DI SWEDIA

Air bersih merupakan air sehat yang bening , tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa serta memenuhi persyaratan kesehatan untuk kebutuhan minum, masak, mandi dan energi. Dengan padatnya daerah perkotaan, dan merambahnya perindustrian membuat air tercemar. Dimana sumber pencemaran air terjadi pada daerah industri dan daerah yang padat penduduknya. Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah berkurangnya ketersediaan air yang disebabkan oleh meningkatnya populasi, pembangunan yang tidak memperhatikan resapan air dan lainnya. Air bersihpun saat ini dirasakan kurang bahkan tidak aman untuk diminum karena adanya bakteri E-Coli dan mengandung logam berat sebagai akibat dari pencemaran. Oleh sebab itu diperlukan solusi untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan air bersih ini.

Pengolahan Limbah Air di Indonesia 
Definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997. Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran air. Pencemaran air didefinisikan sebagai: “ pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya” (pasal 1, angka 2).
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengolah air limbah agar aman kalau dibuang ke lingkungan, mengolah air bersih agar menjadi air layak minum.  Pengolahan air ini dapat secara fisika, kimia dan biologis. Prinsip dasar proses pengolahan air untuk pemurnian produk air bersih ( purityproducts.com ) sebenarnya cukup sederhana, yaitu memisahkan sebanyak mungkin kotoran yang terikut di dalamnya.
Secara umum kotoran yang terdapat dalam air adalah :
  1. Kotoran yang mengapung, misal dedaunan, sampah, dsb
  2. Kotoran yang melayang berupa partikel-partikel kecil penyebab kekeruhan, baik yang terlarut atau tersuspensi.
  3. Kotoran yang tenggelam, misal : pasir halus, lumpur berat, dsb

Cara kerja:
  1.  Air yang keruh ( air sungai, air danau air hujan ) pertama kali harus dihilangkan dari kotoran melayang dengan penyaringan dan kotoran tenggelam dengan penapisan dan atau pengendapan sederhana )
  2. Membuat larutan Koagulan sebanyak 100 gram dilarutkan dalam 1 liter air
  3. Membuat larutan Flokulan sebanyak 6 gram dilarutkan dalam 1 liter air.
  4. Air yang telah dibersihkan pada langkah awal ditempatkan pada bak- bak atau drum.
  5. Tambahkan larutan Koagulan secara perlahan sambil diaduk, setelah itu
  6. Tambahkan larutan Flokulan secara perlahan sambil diaduk
  7. Sebagai patokan sederhana kedua larutan di atas dapat digunakan untuk menjernihkan 1 m3 Air keruh.

( Asumsi : dari beberapa percobaan untuk air keruh seperti sungai akan menjadi jernih dengan dosis Koagulan 80 s/d 100 ppm dan dosis flokulan 4 s/d 6 ppm ).
  1. Dosis di atas dapat ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan.
  2. Maka akan terbentuk gumpalan-gumpalan kotoran yang besar.
  3. Biarkan selama 5 s/d 10 menit maka gumpalan akan mengendap dan didapatkan air yang telah bersih
  4. Air ini sudah cukup aman untuk dikonsumsi selama dimasak terlebih dulu.
  5. Namun jika sumber airnya disinyalir mengandung bakteri atau masih ragu-ragu dapat ditambahkan kaporit cair atau Sodium hipochlorit ( sekitar 0,1 s/d 0,2 gram per meter kubik air ).

Banyak perusahan yang menawarkan produk penyaringan air yang menggunakan teknologi canggih, tapi tidak sedikit masyarakat kita juga menggunakan cara tradisional.

Cara Penyaringan Air Tradisional
Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yng paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa penyaringan air secara sederhana tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Berikut beberapa aternatif cara sederhana untuk mendapatkan air bersih dengan cara penyaringan air :

1. Saringan Kain Katun.
Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan. Anda bias menggunakan saringan kain katun ini dengan cara mengikatkannya pada keran air di rumah.

2. Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Caranya letakkan kapas pada dasar wadah yang telah diberi lubang, kemudian tuangkan air keruh.air hasil penyaringan akan keluar melalui lubang.

3. Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

4. Saringan Pasir Lambat (SPL)
Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil.

5. Saringan Pasir Cepat (SPC)
Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

Pengolahan Limbah Air di Swedia
Swedia dikenal dunia sebagai salah satu negara terdepan dalam mengelola sampah dan air limbah yang ramah lingkungan.. Gryaab merupakan salah satu perusahaan pengolah air limbah terbesar di Skandinavia yang beroperasi sejak 1972. Perusahaan ini milik dari tujuh pemerintah kota, yaitu Ale, Gothenburg, Härryda, Kungälv, Lerum, Mölndal dan Partille.
Untuk mengolah air limbah dari berbagai daerah tersebut, Gryaab menerima air limbah dari terowongan bawah tanah yang memiliki panjang total kurang lebih 130 km. Air limbah ini berasal dari rumah tangga dan industri yang dinaungi oleh lebih dari 800 ribu penduduk. Setiap detiknya, Gryaab menerima aliran air sekitar 8-12 kubik meter. Jumlah ini bervariasi dari musim ke musim sepanjang tahun.
Tujuan dari pengolahan air limbah di Gryaab adalah mengurangi kadar polutan didalam air limbah sehingga aman untuk disalurkan ke laut lepas. Pengolahan air limbah disini mencakup tiga proses utama yaitu mekanis, kimiawi dan biologis. Keseluruhan proses tersebut dilakukan untuk melepaskan bahan organik (BOD7), nitrogen dan fosfor didalam air limbah sebelum dibuang ke laut untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Limbah nitrogen utamanya berasal dari urin, sedangkan fosfor berasal dari feses.
Dalam proses mekanis, air limbah disaring dan dipisahkan dari berbagai jenis sampah yang mengalir didalam saluran air limbah, seperti tisu, kertas, kapas, pasir, kerikil dan sampah lainnya sampai ke partikel-partikel yang lebih kecil. Sementara itu, proses kimiawi akan menyisakan lumpur endapan yang selanjutnya dapat digunakan untuk menghasilkan biogas. Dalam proses biologis, Gryaab menggunakan bakteri khusus untuk mengkonversi limbah nitrogen menjadi gas nitrogen yang akan dilepaskan ke atmosfer. Setelah 12 jam lebih, air limbah yang telah melewati ketiga proses tersebut, dilepaskan kembali ke sungai Göta Alv.
Description: Proses pengolahan air limbah dari rumah tangga dan melewati 3 proses di Gryaab
Proses pengolahan air limbah dari rumah tangga dan melewati 3 proses di Gryaab

Description: Image
Ditemukan Gryaab saat proses penyaringan sampah
Yang menarik disini adalah sisa-sisa produksi dari proses pengolahan air limbah nyatanya dapat memberikan manfaat lainnya. Pengolahan lumpur endapan dapat menghasilkan kompos dan biogas. Dalam jumlah yang besar, limbah lumpur tersebut dikompos dan dijadikan tempat pembuangan akhir (landfill), sedangkan dalam jumlah yang kecil, lumpur yang telah dikompos tersebut disimpan selama 6 bulan untuk membunuh bakteri berbahaya sehingga siap dijadikan pupuk untuk lahan pertanian.
Sementara itu, pengolahan biogas menghasilkan energi yang setara dengan 60 GWh per tahun dan sangat bermanfaat sebagai bahan bakar ramah lingkungan (green fuel). Biogas ini dijual kepada perusahaan listrik Göteborg Energi. Dalam proses selanjutnya, biogas dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk transportasi publik. Tak asing bagi kita, bus-bus umum di seluruh kota di Swedia sudah berlabel ramah lingkungan (eco-label).

Description: DSC02440
Kelak Indonesia dapat memiliki fasilitas pengolahan air limbah serupa yang mengolah air limbah dari masyarakat secara ramah lingkungan. Kita pun bisa berperan serta dalam menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan laut. Pertama, hanya urin, feses dan tisu toilet yang boleh mengalir ke dalam kloset. Jangan membuang tisu yang bukan untuk keperluan toilet, pembalut, kapas dan sampah lainnya ke dalam saluran pembuangan air untuk mencegah penyumbatan dan banjir. Kedua, gunakanlah deterjen secukupnya, sesuai dengan aturan pakai yang tertera didalam kemasan. Akan lebih baik lagi, jika menggunakan deterjen yang ramah lingkungan. Terakhir, sisa zat kimia, cat dan bahan berbahaya lainnya harus didaur ulang di pusat daur ulang (recycling station). Demikian, tiga pesan Gryaab yang dapat kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari*.
*berlaku ketika masyarakat sudah sadar bahwa kebersihan itu adalah kebutuhan dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan dasar itu, mereka tanpa paksaan, mau memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari. Di saat yang bersamaan, pemerintah memberikan dukungan yang nyata, mulai dari keberadaan perusahaan daur ulang milik negara, kerjasama dengan universitas untuk pengembangan dan penelitian (seperti: mencari metode pengolahan sampah dan air limbah yang sesuai dengan karakter masyarakat), menyediakan fasilitas untuk memilah sampah di tingkat rumah tangga, sampai pada lahirnya budaya memilah sampah dengan benar. Tapi apalah arti tumbuh kesadaran, kalau kita tidak berbuat! Seringkali mengatakan soal mentalitas! Mentalitas masyarakat yang tidak mau membuang sampah pada tempatnya, apalagi memilah sampah dengan benar itu hanyalah ucapan yang tak berujung pada tindakan. Yah, setidaknya, kita mau (dan melakukan) membuang sampah pada tempatnya. Tanya pada dirimu sendiri, bagaimana Anda memandang dan memperlakukan sampah?

Sumber :